banner 728x250

Haul Gus Dur di Taman Bungkul, Ruang Refleksi Demokrasi dan Toleransi Dan Kemanusian

  • Bagikan
banner 780X90

 

SURABAYA – Akuratmedianews.com Haul ke-16 Presiden ke-4 Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) digelar di Taman Bungkul, Surabaya, Kamis (18/12/2025). Peringatan ini menjadi momentum refleksi nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan kemanusiaan yang diwariskan Gus Dur, terlebih karena menjadi haul pertama setelah Gus Dur resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Acara yang juga dikemas sebagai tasyakuran atas penetapan gelar pahlawan nasional tersebut dihadiri ribuan jamaah dari berbagai latar belakang agama dan komunitas. Putri kedua Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, turut hadir dan menyampaikan pesan tentang luasnya penerimaan pemikiran Gus Dur di tengah masyarakat.

Menurut Yenny, Gus Dur bukan hanya tokoh umat Islam atau milik bangsa Indonesia semata, melainkan sosok universal yang pemikirannya relevan bagi seluruh umat manusia. Kehadiran peserta dari lintas agama dalam haul ini, kata dia, menjadi bukti bahwa nilai-nilai Gus Dur tetap hidup dan dirasakan manfaatnya oleh banyak kalangan.

Haul ke-16 Gus Dur mengusung tema Budaya Etika Meneladani Demokrasi Gus Dur. Yenny menegaskan, demokrasi yang diajarkan ayahnya berakar pada kedaulatan rakyat. Pemimpin, menurut Gus Dur, wajib mendengar dan memahami suara masyarakat, bukan sekadar berbicara dari balik kekuasaan.

Dalam kesempatan itu, Yenny juga mengingatkan para pejabat publik agar berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan kepada masyarakat. Pernyataan yang tidak dipikirkan secara matang, menurutnya, berpotensi melukai rasa keadilan dan menimbulkan kegaduhan sosial.

Ribuan warga yang hadir berasal dari beragam elemen, termasuk Muslimat dan Fatayat NU dari berbagai daerah di Jawa Timur. Banyaknya aktivis perempuan yang mengikuti acara haul mengingatkan Yenny pada sikap Gus Dur yang sangat menghormati perempuan, menjunjung nilai kemanusiaan, serta konsisten memperjuangkan toleransi antarumat beragama.

Ia menegaskan, bagi Gus Dur setiap manusia wajib dihormati tanpa memandang jenis kelamin maupun latar belakang agama, karena semua adalah ciptaan Tuhan. Gus Dur juga dikenal sebagai pembela wong cilik dan selalu menanamkan pesan hidup rukun dalam perbedaan. Salah satu pesan sederhana yang kerap disampaikan adalah agar sesama tetangga tidak saling bermusuhan meski berbeda keyakinan.

Kesan mendalam terhadap sosok Gus Dur juga dirasakan umat agama lain. Perwakilan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), Simon Filantropa, menyampaikan bahwa Gus Dur mengajarkan pentingnya keadilan sebagai fondasi kerukunan dan perdamaian. Tanpa keadilan, menurut Gus Dur, harmoni antarumat beragama hanyalah ilusi.

Gus Dur lahir pada 7 September 1940 dan wafat pada 30 Desember 2009. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Hingga kini, makam Gus Dur tak pernah sepi peziarah. Setiap hari, ribuan orang datang dari berbagai daerah, dan jumlahnya meningkat tajam menjelang haul sebagai bentuk penghormatan atas warisan pemikiran dan keteladanan kemanusiaan yang ditinggalkannya.(Red).

banner 780X90
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *