banner 728x250

Warisan Kyai Raden Mas Su’ud Masjid Tua Situbondo, Jejak Pesantren Abad ke-19 dan Visi Global Gus Lilur

  • Bagikan
banner 780X90

 

SITUBONDO -Akuratmedianews.com Di Desa Kayuputih, Kabupaten Situbondo, berdiri sebuah bangunan kayu sederhana yang hingga kini masih digunakan sebagai tempat ibadah. Meski oleh sebagian warga saat ini disebut langgar atau musala, bangunan tersebut sesungguhnya memiliki nilai sejarah besar.

 

Sekitar 201 tahun lalu, tepatnya pada 1825, bangunan itu merupakan masjid utama sebuah pesantren yang didirikan oleh Kyai Raden Mas Su’ud, seorang ulama kharismatik yang dikenal ahli teologi dan kanuragan.

Masjid kayu tersebut menjadi pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan Islam pada masanya. Dari tempat inilah Kyai Raden Mas Su’ud membina santri, menyebarkan ajaran Islam, serta membangun jaringan keilmuan di wilayah Situbondo dan sekitarnya.

 

Keberadaan masjid ini menandai fase penting perkembangan Islam di kawasan Tapal Kuda pada awal abad ke-19.

Meski pesantrennya kini tidak lagi berdiri, bangunan masjid kayu itu tetap bertahan hingga lebih dari dua abad. Struktur kayu yang masih utuh menjadi bukti ketangguhan arsitektur tradisional sekaligus saksi bisu perjalanan dakwah Islam di masa lampau.

 

Kyai Raden Mas Su’ud dikenal sebagai ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama serta kemampuan kanuragan. Ia berasal dari jalur keilmuan dan trah ulama yang berpengaruh, dengan jejak dakwah yang kuat di wilayah Jawa Timur bagian timur. Makamnya hingga kini masih terawat dan menjadi bagian dari sejarah lokal yang dihormati masyarakat.

 

Peran Kyai Raden Mas Su’ud tidak hanya terbatas pada pendirian pesantren, tetapi juga pada pembentukan karakter keislaman masyarakat sekitar yang berakar pada nilai keilmuan, spiritualitas, dan kemandirian.

Warisan Nilai, Bukan Sekadar Bangunan Bagi HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, yang akrab disapa Gus Lilur—cicit Kyai Raden Mas Su’ud—warisan leluhur tidak semata-mata berupa bangunan fisik.

 

Menurutnya, yang lebih penting adalah warisan nilai perjuangan, dakwah, dan visi besar untuk kemanusiaan.

Ia menegaskan bahwa masjid tua di Kayuputih adalah simbol awal, bukan tujuan akhir. Dari sejarah lokal inilah lahir gagasan besar untuk membawa semangat dakwah Nusantara ke tingkat global.

Gus Lilur kemudian memperkenalkan gagasan besar bertajuk DABATUKA (Demi Allah, Bumi Aku Taklukkan untuk Kemanusiaan) dan BAKIRA (Bandar Kyai Nusantara). Melalui konsep tersebut, ia menargetkan pembangunan satu juta masjid dan ribuan pesantren di berbagai negara sebagai bagian dari dakwah lintas batas.

 

Menurut Gus Lilur, dakwah global harus ditopang oleh kemandirian ekonomi umat. Karena itu, ia menyebut bahwa penguatan ekonomi menjadi elemen penting agar dakwah tidak bergantung pada pihak lain dan dapat berjalan berkelanjutan.

 

Dalam pandangannya, kekuatan dakwah tidak hanya terletak pada fisik bangunan, tetapi pada jejak pemikiran dan pengaruh keilmuan. Ia mencontohkan sosok Kyai Sholeh Darat dari Semarang, yang meski tidak meninggalkan bangunan monumental, namun pemikirannya melahirkan tokoh-tokoh besar Islam di Indonesia.

Kini, Masjid Kayuputih di Situbondo tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda sejarah dan titik awal lahirnya gagasan besar. Dari bangunan kayu berusia dua abad inilah, semangat dakwah Kyai Raden Mas Su’ud diwariskan dan dikembangkan oleh generasi penerusnya untuk menjangkau dunia.

banner 780X90
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *