banner 728x250

Dugaan Proyek Tak Optimal  Dua Tram Mover PT INKA Di Kembalikan dari TMII ke Madiun

  • Bagikan
banner 780X90

 

MADIUN – Akuratmedianews.com Mangkraknya dua unit tram mover produksi PT Industri Kereta Api (Persero) dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ke Madiun memunculkan dugaan proyek tidak berjalan optimal. Kendaraan yang sejak 2022 berada di kawasan wisata ibu kota itu hingga kini belum pernah beroperasi penuh, dan pada 2025 dipindahkan kembali ke kota asal pembuatannya.

 

Saat ini, kedua unit tram mover tersebut ditempatkan di Politeknik Negeri Madiun sebagai sarana penelitian di laboratorium perkeretaapian. Perubahan fungsi dari moda transportasi kawasan wisata menjadi objek riset akademik memicu tanda tanya publik.

 

Sejak awal, tram mover dirancang sebagai transportasi internal berbasis listrik untuk menunjang mobilitas pengunjung TMII. Namun operasional perdana tak kunjung terealisasi. Kondisi ini membuat proyek tersebut kerap disebut mangkrak, bahkan dinilai gagal oleh sebagian kalangan karena tidak memberikan manfaat langsung sesuai rencana awal.

 

Ketua LSM Garis Pakem Mandiri Madiun, Udin Pakem, menyebut pihaknya menerima informasi bahwa tram mover belum dapat digunakan sesuai peruntukan. Menurutnya, situasi ini layak mendapat perhatian serius.

 

“Kalau benar belum bisa difungsikan sebagaimana mestinya, maka kualitas produk dan proses pengadaannya patut dipertanyakan. Ini menyangkut penggunaan anggaran dan berpotensi menimbulkan kerugian negara,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa proyek pengadaan sarana transportasi publik semestinya melalui tahapan ketat, mulai dari perencanaan teknis, produksi, uji fungsi (commissioning), hingga serah terima. Bila dalam praktiknya kendaraan tidak dapat dioperasikan secara optimal, maka ada indikasi tahapan yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

 

“Apakah perencanaannya yang keliru, pengawasannya yang lemah, atau ada persoalan dalam proses produksi? Ini perlu dibuka secara transparan,” tambahnya.

 

Pemindahan unit dari lokasi operasional awal juga dinilai menimbulkan pertanyaan, karena pengadaan dilakukan untuk mendukung kebutuhan di TMII, bukan untuk fungsi lain. LSM tersebut mendorong audit independen guna memastikan apakah kendala yang terjadi murni teknis dalam tahap pengembangan atau terdapat unsur kelalaian dalam pengadaan.

 

Di sisi lain, pihak PT INKA memberikan klarifikasi tertulis bahwa uji coba terbatas di TMII merupakan bagian dari tahapan pengujian teknis kendaraan listrik berbasis riset.

 

Senior Manager PT INKA (Persero), Hartono, menjelaskan sejak awal tram mover dikembangkan sebagai platform riset, bukan langsung untuk tahap komersial. Uji coba di TMII, menurutnya, merupakan bagian dari pengujian teknis dan operasional sebelum pengembangan lanjutan.

 

“Setelah evaluasi selesai, unit dikembalikan untuk pengembangan riset terapan dan kolaborasi akademik bersama Politeknik Negeri Madiun,” jelas Hartono.

 

Ia menambahkan, fokus pengembangan saat ini mencakup peningkatan sistem kelistrikan, efisiensi operasional, serta aspek keselamatan dan keandalan kendaraan. Dengan demikian, pemulangan unit disebut sebagai kelanjutan tahapan riset, bukan bentuk kegagalan proyek.

 

Meski penjelasan telah disampaikan, dugaan proyek tak optimal masih menjadi perbincangan. Publik kini menanti kejelasan menyeluruh apakah tram mover memang sejak awal hanya ditujukan sebagai uji coba berbasis riset, atau terdapat persoalan lain yang menyebabkan kendaraan belum dapat beroperasi sebagaimana direncanakan di TMII.(Hst).

banner 780X90
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *