Dialog Kepemudaan Resepsi Milad Pemuda Muhammadiyah dan Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sidoarjo bertema ‘Sinergi Membangun Bangsa’ yang di gelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida),
SIDOARJO Akurat Media News– Peranan Pemuda Muhammadiyah dalam membangun bangsa tak lepas dari perlunya Kader Muhammadiyah masuk ke dunia politik. Apalagi para Pemuda Muhammadiyah memiliki potensi pemikiran yang cerdas dan jernih jika terjun ke dunia politik.
Ali Muthohirin, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah menegaskan, perlunya pemuda memberikan edukasi akan pemahaman membaca realitas politik hingga akar-akarnya.
” Kader Pemuda Muhammadiyah harus memahami dunia politik dan berkecimpung didalamnya,” kata Ali Muthohirin saat menjadi pembicara Dialog Kepemudaan Resepsi Milad Pemuda Muhammadiyah dan Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sidoarjo bertema ‘Sinergi Membangun Bangsa’ yang di gelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Minggu (5/6/2022).
Ali mengungkapkan, jika sebelum bermain di dunia politik, perlu adanya pemahaman politik, seperti membaca geopolitik global bermain, atau ekonomi determinasi bermain. Agar tidak terus menjadi korban politik.
“Selama ini yang menjadi masalah di sekitar organisasi adalah politik identitas. Meskipun politik identitas sebenarnya suatu hal yang masih wajar terjadi untuk mendapat massa.
Namun, dalam sejarah bangsa, tidak ada pembentukan bangsa ini dari politik identitas. Dan sejarah bangsa tidak lepas dari tokoh muhammadiyah yang lepas dari sekat politik identitas,” ungkap Ali.
Ali menambahkan jika para tokoh Muhammadiyah tidak pernah berpikiran dirinya atau memikirkan diri sendiri, memikirkan kekayaan, mereka hanya memikirkan kepentingan bangsa. Sehingga para tokoh ini tidak pernah meninggalkan kekayaan megah untuk diri sendiri. Bisa dibuktikan, politik identitas ini belum siap diterapkan di Indonesia. Yang ada kelompok muslim yang mayoritas suara akan menjadi korban karena yng diadu sesama umat islam.
“Satu kelompok saja, seperti Muhammadiyah yang anggotanya memiliki keragaman bisa menjadi korban dari politik identitas ini. Karena masyarakat kurang bisa membaca realitas politik. Dan yang dilihat hanya informasi di televisi dan medsos dan itu baru 30 persen dari kenyataan.
Saat menteri atau pemimpin bangsa diambil dari ketua organisasi maka kontrol sosialnya akan banyak. Hal ini menjadi support sosial, ketua PPM perlu didorong nyaleg biar orang-orang baik ini bisa memimpin,”jelasnya
Lebih jauh Ali berharap, sangat perlunya kader Muhammadiyah masuk dalam ranah politik adalan untuk memiliki kekuasaan. Karena dengan adanya orang baik yang memiliki kekuasaan maka tujuan bangsa akan bisa dijalankan dengan baik.
“Saya mencontohkan Muhammadiyah dan NU sudah lama ada, tetapi Dolly tempat prostitusi terbesar tidak bisa tutup. Tapi mengapa saat Walikota Surabaya saat itu, Bu Risma sekali tanda tangan dolly ditutup,” paparnya.
“Makanya perlu adanya kader pemuda di politik, jangan disalahkan. Karena kita perlu orang baik ini memiliki kekuasaan. Bukan hanya or@ng punya uang saja yang punya kekuasaan. Hal ini merupakan cara membangun bangsa di era saat ini, yaitu masuk ke ruang kekuasaan untuk menghadapi perubahan besar ke depannya,” harapnya
Sementara itu, Dikki Syadqomullah, PWPM Jawa Timur menambahkan untuk jadi kader Pemuda Muhammadiyah, harus bisa mengendalikan diri demi kepentingan bersama.
“Kalau melihat pendahulu kita, founding father kita, KH Ahmad Fahdan memang banyak berkorban. Maka dari itu, kita harus ingat pada Alquran, sejatinya agama itu mengajarkan pada kebaikan dan faedah sebgai pengayom dan rahmat seluruh alam,” kata Dikki
Dikki menegaskan agar jangan lelah membangun bangsa yang besar. Dan dengan sinergi yang baik, para Kader Muhammadiyah bisa tersebar di berbagai bidang. Tak hanya politik, bahkan entrepreuner untuk bisa mendukung bangsa ini.
“Semuanya bersinergi dengan baik, tidak semua harus masuk politik. Kader-kader ini harus di screening kualitasnya untuk diperjuangkan bersama jika mau masuk politik,” jelas Dikki.
Sementara itu, Pakar Politik Universitas Airlangga, Suko Widodo mengungkapkan terdapat 27,5 persen pemilih pemula atau digital native yang bisa dikelola pemuda muhammadiyah jika mau masuk ke ranah politik.
“Kalau mengaku sebagai Pemuda Muhammadiyah, jangan takut terjun ke dunia politik, tetap berbuat baik, sabar dan mengasah pemikiran agar bisa memikirkan bersama permasalahan bangsa,” pesan Suko Widodo. (Dik)










