banner 728x250

Haul Gus Dur ke-16 di Ruang Publik, Taman Bungkul Jadi Simbol Hidupnya Toleransi

  • Bagikan
banner 780X90

 

SURABAYA – Akuratmedianews.com Taman Bungkul Surabaya kembali menjadi ruang perjumpaan gagasan dan kebangsaan. Kamis malam (18/12/2025), ruang publik ikonik tersebut dipilih sebagai lokasi Haul ke-16 Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebuah peringatan yang tidak sekadar ritual mengenang, tetapi juga upaya merawat nilai toleransi dan kemanusiaan di tengah masyarakat majemuk.

 

Peringatan haul yang digelar oleh Barisan Kader (BariKade) Gus Dur Jawa Timur ini terbuka untuk umum dan mengajak masyarakat lintas latar belakang untuk hadir bersama. Pemilihan Taman Bungkul dinilai mencerminkan semangat Gus Dur yang dekat dengan rakyat dan menjadikan ruang publik sebagai tempat dialog kebangsaan.

 

Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur, Sudarsono Rahman atau Cak Dar, mengatakan bahwa peringatan wafat Gus Dur yang selalu digelar di banyak tempat menunjukkan kuatnya jejak pemikiran dan keteladanan almarhum di tengah masyarakat.

 

“Haul Gus Dur selalu hidup di mana-mana. Ini menandakan bahwa nilai dan gagasan Gus Dur tidak pernah mati, justru terus tumbuh,” ujar Cak Dar.

 

Haul ke-16 Gus Dur di Surabaya dirangkai dengan tasyakuran atas usulan Gelar Pahlawan Nasional. Acara malam hari dijadwalkan dimulai pukul 19.00 WIB, dengan kehadiran putri Gus Dur, Neng Yeni Wahid, yang akan menyampaikan refleksi kebangsaan kepada masyarakat.

 

Sejak pagi hari, rangkaian kegiatan telah diawali dengan Khotmil Qur’an yang dipimpin Jamiatul Quro’ wal Huffadz Nahdlatul Ulama (NU). Doa bersama tersebut dipanjatkan untuk keselamatan Kota Surabaya sekaligus sebagai wujud empati terhadap korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

 

Menurut Cak Dar, meski telah 16 tahun wafat, Gus Dur tetap hadir melalui pemikiran dan sikap hidupnya yang menempatkan kemanusiaan di atas segala perbedaan.

 

“Gus Dur adalah teladan humanisme. Beliau mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan, tetapi kekuatan untuk membangun bangsa,” ungkapnya.

 

Ia menambahkan, Gus Dur juga meninggalkan warisan cara berpikir kebangsaan yang inklusif, terutama dalam memaknai agama. Bagi Gus Dur, agama harus menjadi sarana pembebasan dan pemanusiaan, bukan justru alat untuk menekan atau mendiskriminasi kelompok lain.

 

Melalui Haul ke-16 ini, BariKade Gus Dur berharap nilai-nilai tersebut terus diwariskan, terutama kepada generasi muda. Momentum haul di ruang publik diharapkan menjadi pengingat bahwa toleransi, keberanian moral, dan kemanusiaan adalah fondasi penting dalam menjaga keutuhan Indonesia.(Red).

banner 780X90
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *