MADIUN – Akuratmedianews.com Puluhan unit Bus Listrik Merah Putih produksi PT INKA (Persero) yang pernah menjadi simbol kebanggaan nasional saat KTT G20 Bali 2022, kini kembali terparkir di fasilitas perusahaan di Madiun. Armada yang sebelumnya dielu-elukan sebagai tonggak kemandirian kendaraan listrik nasional itu memicu sorotan baru: bagaimana keberlanjutan proyek bernilai ratusan miliar rupiah tersebut?
Bus-bus listrik tersebut sebelumnya bertugas mengangkut delegasi internasional di Bali, lalu dilanjutkan melalui skema Buy The Service (BTS) di Bandung dan Surabaya. Namun setelah masa kontrak berakhir, seluruh unit dikembalikan ke pabrikan.
Senior Manager PT INKA, Hartono, menjelaskan bahwa pengembalian armada merupakan prosedur normal pasca berakhirnya masa sewa dengan operator, termasuk Perum DAMRI.
“Setelah masa sewa selesai, unit kembali ke INKA untuk perawatan dan evaluasi. Saat ini kendaraan dalam kondisi layak dan sedang kami upayakan untuk dipasarkan kembali,” ujarnya melalui keterangan resmi.
Namun publik melihat persoalan ini lebih dari sekadar siklus kontrak. Proyek bus listrik tersebut bukan proyek kecil. Tercatat, PT INKA memproduksi 53 unit E-Inobus untuk mendukung mobilitas delegasi dunia selama forum internasional berlangsung. Dari sisi pembiayaan, proyek tahap awal didukung pendanaan sebesar Rp150 miliar dari PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA).
Dengan estimasi biaya produksi sekitar Rp5 miliar per unit, investasi yang tertanam dalam armada ini tergolong besar. Spesifikasi bus yang mampu mengangkut 19 hingga 34 penumpang tersebut memang dirancang dengan standar tinggi, mengusung dominasi komponen lokal serta dukungan teknis dari PT INKA Multi Solusi Service (IMSS).
Kendati demikian, fakta bahwa puluhan unit kini terparkir kembali di Madiun menimbulkan pertanyaan mengenai model bisnis dan kesinambungan pasar kendaraan listrik dalam negeri. Apakah proyek ini benar-benar telah menemukan ekosistem pengguna yang stabil, atau masih bergantung pada momentum event besar dan subsidi pemerintah?
PT INKA memastikan bus-bus tersebut tidak akan menjadi aset mati. Manajemen mengklaim tengah menjajaki komunikasi dengan sejumlah pemerintah daerah dan instansi yang tertarik mengembangkan transportasi publik berbasis listrik. Skema kerja sama baru disebut sedang diformulasikan agar armada kembali beroperasi.
Di tengah ambisi transisi energi dan elektrifikasi transportasi nasional, kasus ini menjadi cermin tantangan industri dalam negeri: membangun teknologi mungkin bisa, tetapi memastikan keberlanjutan pasar adalah ujian sesungguhnya.(Hst).










