Jakarta akuratmedianews.com – Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Masyarakat Flobamora (NTT) dan juga Sekretaris Jenderal DPP Gerakan Restorasi Pedagang dan UMKM (GARPU) mengucapkan terima kasih kepada Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi terkait rencana pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo, Bandara Mali di Alor, dan Bandara Fransiskus Xaverius Seda di Maumere.
Menurut katadata.co.id, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meninjau empat bandara yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (14/1). Peninjauan merupakan bagian dari upaya persiapan Indonesia menjadi tuan rumah rangkaian pertemuan G20 pada tahun ini.
Merespon kebijakan tersebut, sebagai Putera asli Alor yang juga merupakan Alumni Magister Sistem dan Teknik Transportasi UGM Fridrik (Fritz) Makanlehi mengucapkan terima kasih kepada Menteri Perhubungan Budi Karya.
“Saya membaca beberapa berita dan juga saya tanya ke keluarga di Alor, Pak Menhub, Bapak Budi Karya Sumadi sudah melakukan peninjauan Bandara di NTT termasuk Alor. Tentu, sebagai Putera Alor, saya merasa bangga dan senang banget. Karena dengan demikian pembangunan pariwasata Alor akan berkembang pesat,” Ujar Fritz.
“Pak Menhub sudah berjasa bagi orang NTT. Tidak hanya ini saja, Pak Menhub juga pernah bantu Panitia Satu Hati Untuk NTT -Jabodetabek Peduli korban bencana Seroja NTTuntuk meringankan beban transportasi. Berkat bantuan Pak Menhub, hampir seluruh donasi bisa dikirim ke NTT secara gratis. Terima kasih Pak Menhub,”tambah Tenaga Ahli Fraksi NasDem DPR RI yang ditempatkan di Komisi V DPR RI itu.
Ia mengatakan, tahun 2016, ia pernah prediksi bahwa bandara Mali Alor akan dikembangkan sehingga ia mengambil tesis di Bandara Mali Alor.
Judul tesisnya adalah “ANALISIS PENGEMBANGAN SISI DARAT DAN SISI UDARA BANDARA MALI ALOR – NUSA TENGGARA TIMUR”. Dosen pembimbingnya adalah Prof. Ir. Sigit Priyanto, M.Sc., Ph.D ; Dr. Ir. Dewanti, M.S.
“Tahun 2016, saya meyakini bahwa Bandara Mali Alor akan dikembangkan, maka saat itu saya bertemu dengan Pak Sigit agar judul tesisnya tentang Sisi Darat dan Sisi Udara Bandara Mali Alor dengan menggunakan Pesawat Boeing 737-500,” ujar Mantan Sekretaris Panitia Satu Hati Untuk NTT Jabodetabek Peduli Bencana Seroja NTT itu.
Ia menyarankan, SDM Putera daerah diikutkansertakan dalam pengembangan Bandara Mali tersebut.
“Saya merupakan Putera asli Alor. saya juga Alumni Teknik Penerbangan STTA (ITDA) Jogjakarta dan Magister Sistem dan Teknik Trasnportasi UGM. Saya berharap, Pak Menhub bisa libatkan putera daerah untuk proses pengembangan Bandara Mali Alor,” sebut Fritz yang juga merupakan Tenaga Ahli Fraksi NasDem DPR RI.
Ia juga memaparkan, abstrak tesisnya yaitu ‘Pengembangan Bandara Mali ini diperlukan karena untuk memenuhi kebutuhan penumpang, dengan semakin tingginya laju pertumbuhan penumpang yang datang dan berangkat maka kebutuhan sisi darat dan sisi udara bandara Mali pun akan semakin padat, sehingga dibutuhkan perluasan lebih lanjut. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah dengan menambah kebutuhan sisi darat dan sisi udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan sisi darat (terminal penumpang) dan sisi udara untuk 20 tahun mendatang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang mengikuti standarisasi JICA, SNI, SKEP, FAA dan ICAO. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pertumbuhan penumpang yang datang dan berangkat sebesar 200.279 dan 155.649, untuk pergerakan pesawat sebesar 4.896, pada jam sibuk penumpang datang dan berangkat sebesar 260 dan 202. dan untuk pesawat adalah 5 atau 7 pergerakan pesawat. Untuk temperatur Bandara Mali 33,7°C menghasilkan panjang landasan pacu 2.5278 meter dengan MTOW dalam FAR sebesar 98,45%. Kebutuhan taxiway untuk metode FAA dan JICA 1996 sebesar 149,05 meter dan 104,55 meter. Panjang Apron untuk metode JICA 1991 sebesar 138,1 meter dan lebar 84 meter, luas 11.600 m2. Dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan pengembangan 20 tahun mendatang dibutuhkan penambahan geometrik sisi darat dan sisi udara disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku’.
“Semoga kami asli Alor yang mempunyai kemampuan dibidang Penerbangan atau Transportasi Udara dimanfaatkan,” harap aktivis kemanusiaan itu. ( Edo )










